Order Fiktif (Lagi) Tapi Kali Ini Aman

Saya mau share pengalaman pribadi, baru saja ini dapat order fiktif kali kedua. Tapi bedanya kali ini saya sudah mudah membaca polanya, jadi si penipu tahu orderan sepi, dan mencoba memancing mitra² baru.

Dugaan saya sih pelaku juga mitra atau pernah menjadi mitra atau setidaknya paham sistem Grab walau sedikit². Saya juga menduga pelaku ini juga ada di wilayah tidak jauh dari lokasi dia order ini. 

Tapi dugaan pelaku ada di wilayah order terbantahkan, bahwa pelaku ini tidak paham lokasi area. Karena di order fiktif kedua ini si pelaku menaruh titik jemput di daerah yang tidak mungkin dilakukan penjemputan, karena itu sudut gelap yang tidak mungkin orang menunggu jemputan, lokasinya gelap dan di bawah jembatan. Saya tahu betul lokasi jemputnya. 

Ilustrasi disiapkan by Gemini

Saya tetap ikuti titik jemput supaya tidak disalahkan atau pelaku mengkambinghitamkan akun Grab saya. Kebetulan juga itu dekat dengan arah rumah saya jadi sekalian pulang. 

Oh iya saya akan mulai dari awal kronologisnya, walaupun bukti chat saya di akun pesan instan Grab ini tidak bisa saya lihat lagi dan waktu itu gak sempat screenshot. Jadi saya jelaskan saja, kalau mau data harusnya Grab merekam semua aktifitas di aplikasi akun Grab saya. 


Sekitar jam 20:28 saya dapat notifikasi order masuk di aplikasi, melalui Turbo 'BETA', saya terima orderan tersebut. 

Ini tampilan SS transaksi yang fiktif tadi, dari email pengaduan saya itu akhirnya saya dapat kompensasi sebesar Rp 3.000,-

Saya lihat itu tujuan jemput di Karangjati, cuma lokasi pasti dimana saya tidak tahu. Tujuan antar itu lumayan jauh, di Mojokerto. Soalnya nominal tarifnya besar, 80rb dibayar customer, saya Terima 58rb. Saya langsung chat dulu si penumpang ini, di sini belum menduga si penumpang ini penipu, saya masih (+) thinking. 



Si penumpang ini mengaku yang akan naik adalah anaknya, dia minta nomor WA saya. Saya tidak langsung memberikannya. Si penumpang ini koq ngebet maksa minta nomor WA Saya, sampai berulang. Di sini saya mulai menduga ini order fiktif. 

Saya tentunya harus tahan diri, karena jika saya tidak sopan dan menuduh penumpang ini penipu tanpa ada bukti jelas bisa kena pasal, justru saya yang dirugikan, saya korban koq malah saya yang rugi gara² salah action. 

Saya coba mancing, "apakah titik jemput sudah sesuai?" Dibilang sesuai. Saya tanya lagi, "apakah titik antar juga sesuai?" Dibilang sesuai. Padahal ya titik antarnya itu jelas aneh, itu di daerah perbukitan yang jelas di sana gak ada rumah penduduk. Jikapun setan ya gak mungkin juga jawab minta WA, jika ini order ghaib pun pasti sesopan mungkin. 

Demit itu jauh lebih sopan daripada manusia blangsak seperti penipu ini. 

Akhirnya saya sekalian saja arah pulang, toh jalurnya searah. Sampai titik lokasi jemput, Saya tahu betul titik itu bukan titik layak sebagai penjemputan, di sana itu gelap, tanpa penerangan, sudut tikungan dibawah jembatan, jika siang masih mungkin, tapi di sana orang tidak suka tunggu di sana karena memang bukan tempat menunggu jemputan. Kalau menunggu order masih mungkin, karena saya sering nunggu order dititik itu karena sejuk adem rindang pohon, sepi pula gak ada gangguan kendaraan. Tapi tidak untuk menunggu jemputan. 

Alhasil saya menunggu di lokasi yang terang dekat KOA Cafe. Sambil saya cek tujuan antar kemana, karena saya harus siap plan kedua, jika memang ini ada orang yang saya jemput, tapi ini pancingan untuk tindak kriminal pembegalan driver. Soalnya tujuannya ini bukan tempat yang wajar. 

Saya sudah siapkan plan kedua untuk panggilan darurat SOS, terus live location sudah saya siapkan jika nanti ada modus kriminal lebih lanjut, karena jelas ini order tipu².

Bahkan saya sudah siapkan plan ketiga jika ini memang saya jemput manusia nyata, tapi sebenarnya itu demit dan minta diantar ke lokasi yang dia tuju. 

Tapi ternyata ini jelas order fiktif seperti yang pernah saya alami pertama kali, tautan kisahnya saya bagikan dibawah ini. 


Karena dari beberapa dugaan mengarah ini order fiktif saya dengan santai menunggu telepon dari si penipu ini. 

Seperti biasa si penipu menelepon WA dengan profil picture akun Grab.ID. Saya jawab dengan tenang, si penipu dengan gaya bicara seolah-olah resmi.

👺 : Dengan mitra Grab, bapak saat ini sedang menjemput customer yang diduga orderan fiktif. 
🤠 : Iya, saya tahu ini orderan fiktif.
🤠 : Iya, saya tahu banget ini order fiktif, memang saya sengaja, karena saya tahu situ mau nipu. Akun saya ini digunakan Grab buat lacak order² fiktif seperti ini. 
👺 : #$&@_+?! #$&

Terus telepon berakhir. 

Setelah itu saya cari posisi yang aman untuk parkir, lalu saya mencoba menghubungi PUSBAN, tapi di sini tidak dapat jawaban yang sesuai dengan harapan saya. 





Harapan saya adalah akun si penipu ini dibanned agar tidak digunakan lagi untuk menipu, kemungkinan akun ini akun sudah lama, karena kalau akun baru biasanya kan dapat promo, ini tidak seperti layaknya akun yang sudah lama digunakan, jadi akun ini adalah akun yang sudah diambil promonya dan tinggal akun yang dipakai sehari-hari tapi dimanfaatkan untuk orderan fiktif. 


Akhirnya saya coba hubungi FAQ untuk mendapatkan jawaban yang pasti, saya SS dari bukti² yang bisa saya sajikan, obrolan dichat dengan penipu tidak bisa saya SS karena order dibatalkan oleh penipu. 







Tapi saya tuliskan semua informasi yang berguna bagi Grab untuk menindaklanjuti laporan ini, saya bagikan email balasan dari Grab kepada saya. 

Begitulah kira² yang bisa saya bagikan, untuk jadi perhatian dan pelajaran mitra Grab yang lainnya untuk pembelajaran menghadapi modus penipuan. Bisa saja dikemudian hari penipu menggunakan modus lain karena yang ini sudah ketauan, tapi siklusnya bisa saja penipu menggunakan modus ini jika orang sudah lupa. Jadi waspadalah selalu. -cpr

#onedayonepost
#grab
#review
#serbaserbi
#umum

Update dari laporan yang saya ajukan semalam, ternyata sore / malam (20:04) ini laporan saya dibalas dan dijawab solusinya:



Keren sih gercep sekali Grab ini bekerja mengeliminasi akun² yang digunakan untuk aksi penipuan dan kriminal. Kasus ini selesai dan saya menunggu aksi penipuan berikutnya, akankah masih dengan modus yang sama atau berbeda dikemudian hari? 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.