Modus Penipuan Driver Online Bertemu Langsung

Saya mau share info menarik nih, untuk pelajaran juga sebagai driver online, kebetulan kan beberapa waktu lalu saya juga nyaris kena tipu tuh dari penumpang hanya modusnya tak berani tatap muka, tapi dengan modus order fiktif. 


Nah kali ini modusnya tatap muka atau bertemu langsung dengan menyamar sebagai penumpang. Oh iya, ini bukan saya alami sendiri tetapi dari sharing salah satu driver online di Surabaya ke sebuah radio berita lokal. 



Jadi kejadiannya pada 1 Mei 2026 kemarin. Driver online ini sebenarnya sudah pernah mengangkut penumpang ini (nantinya jadi si penipu), penumpang ini ibu paruh baya dengan style hijabers. Berpikir + seharusnya orang dengan style ini lebih bisa menjaga kelakuan #seharusnya.

Karena sudah pernah mengangkut calon penipu ini sebelumnya, mereka bertukar kontak. Sehingga pas hari ini calon penipu ini menghubungi calon korban, minta dijemput tapi dengan order offline saja. 

Tapi si calon penipu ini meminta tolong ke calon korban mencari tukaran uang pecahan kecil senilai Rp 2 juta. Calon korban pun mencarikannya dan mereka bertemu sekalian mengantar ke tujuan yang direquest si calon penipu ini. 

Yang pecahan kecil itu pun diberikan ke penipu. Korban waktu itu juga sudah meminta segera ditransfer, tapi kata si penipu nanti sekalian dengan biaya antarnya. Di sini korban sudah merasa janggal, tapi karena perasaan tidak enak dan masih mencoba positif thinking jadi menahan diri. 

Si penipu meminta diantar ke makam, dia mau berziarah ke suaminya. Di sana si korban juga diajak ikut jadi seolah-olah semua baik² saja. Di sini korban juga mencoba menagih segera ditransfer karena itu uang mau digunakan. Si penipu ngeles lagi mencoba mengulur waktu. 

Lalu dari titik itu korban meminta diantar ke sebuah hotel besar. Sampai di sana, si penipu minta diturunkan di lobby, katanya mau jemput temannya. Sampai di sana si korban sudah merasa tidak enak, dia kan meninggalkan si penipu pergi dan dia harus cari parkiran di basement. Di sini si penipu masih keep contact dengan korban, korban diminta menunggu di lobby hotel. Bahkan diminta foto lokasi dimana menunggu. 

Ternyata setelah ini si penipu hilang kontak, nomor WA diblokir. Si korban lalu menanyakan ke pihak keamanan yang melihat si penipu katanya dia ini tidak masuk ke hotel tapi bergeser ke pusat perbelanjaan sebelahnya, katanya ada acara di sana. 

Di sini fixed si penipu ya memang penipu dan korban ini fixed adalah korban. Pihak aplikator jelas gak bertanggung jawab apapun pada mitranya. Karena jelas semua terjadi karena ada transaksi diluar aplikasi, dan ini deal antara penumpang dan mitra. 

Jelas dari aplikator hanya bisa bilang, aturan dari pihak mereka jelas untuk tidak menerima order diluar aplikasi karena resiko² yang bisa muncul. Bahkan dari aplikasi saja order fiktif dan tindak kejahatan bisa saja terjadi, hanya saja jika melalui aplikasi semuanya bisa dilacak, dari akun pelaku penipuan meski menggunakan akun sementara sekalipun masih ada jejaknya. 

Inilah yang terkadang jadi dilema mitra, dengan aplikasi mereka kerap diperas, penghasilan lebih tidak bisa mereka rasakan, alhasil mencari penghasilan tambahan lain di luar aplikasi mereka lakukan. Saya kira jika mereka bisa dapatkan lebih baik dari aplikasi tentunya milih aplikasi karena mereka juga lebih aman, tapi potongan dan fee yang tinggi membuat mereka ogah, tidak iklas, karena resiko di jalan, segala bentuk biaya² di jalan kadang diabaikan aplikator. 


Pengalaman di atas bisa jadi pelajaran berharga buat driver online seperti saya juga. Agar lebih berhati-hati pada tiap penumpang dan jangan terlalu baik apalagi urusannya dengan uang.

Penipu bisa menyamar jadi siapa saja, bahkan jadi penumpang kita, jadi tetap waspadalah, waspadalah. -cpr

#onedayonepost
#grab
#jurnalgrab
#moduspenipuan
#waspada

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.