Kisah Maling yang Bebas Kabur Tapi Kembali Menyerahkan Diri
Saya mau cerita lagi nih. Kali ini cerita soal maling yang sebenarnya dia ini sudah bebas, bisa kabur, tapi eh malah balik lagi untuk 'menyerahkan diri'. Bukan menyerahkan diri dalam arti positif, tapi tidak sengaja menyerahkan diri karena ketidaktahuan dia kalau sebenarnya sudah ketauan. Maling yang gak sadar diberi kesempatan bertobat tapi tidak dilakukan.
Sebenarnya maling ini sudah melakukan aksi serupa gak sekali ini, tapi waktu itu gak ketauan, kemudian melakukannya lagi berhasil, eh dicoba lagi tapi malah dia datang untuk 'menyerahkan diri'.
Maling ini tidak bekerja sebagai maling profesinya, dia jadi maling karena ada kesempatan, tapi memang didukung dengan sifat/karakter mengambil yang bukan haknya.
Sehari-hari dia bekerja sebagai penjual bakpao gerobak, gerobaknya ditaruh di atas sepeda kayuh. Jadi gerobak kayuh lebih tepatnya. Seperti gambar ilustrasi saya tampilkan dibawah ini.
Dia ini sering dan memang rute jualannya melewati komplek perumahan ini, warga juga sudah sering melihatnya. Perumahan ini adalah perumahan dari calon istri saya tinggal.
Di komplek perumahan ini ada warga perumahan yang punya warung di rumahnya. Toko kelontong kecil²an gitu lah. Menjual kebutuhan minimal sehari-hari, gas, air minum, makanan, cemilan, rokok dll.
Beberapa waktu silam, toko ini juga pernah mengalami kehilangan barang jualnya, tapi tidak tahu siapa yang ambil. Si punya toko cuma bisa melakukan tuduhan kepada orang lain tanpa dasar bukti sama sekali. Jadi ada saja yang kena fitnah. Kehilangan yang dulu itu juga belum diketahui siapa pelakunya sampai kejadian yang terjadi kali ini.
Memang toko di rumah ini sering tidak terjaga, artinya pemiliknya di dalam ketika ada yang mau beli itu seperti tidak terlayani, jadi beresiko sekali barang ada yang ambil tanpa diketahui.
Sampai akhirnya si empunya toko memasang CCTV di toko itu. Delalah pas hari itu, ada tukang bakpao keliling yang saya ceritakan tadi. Dia mungkin niatnya mau beli sesuatu, tapi melihat di toko gak ada yang jaga. Nah di situ si tukang bakpao munculah niat mencuri (lagi), karena dulu pernah berhasil aman² saja. Dia ambil lah rokok beberapa slop dan setelah mengambil dia pun pergi.
Setelah kejadian ditaksir kerugian mencapai ratusan ribu karena harga rokok yang per bungkusnya bisa mencapai @50rb.
Lha dari mana tahu malingnya si tukang bakpao yang biasa jualan di komplek?
Iya itu kan sudah pasang CCTV dan dari CCTV itu terlihat jelas siapa pelakunya. Lucunya si pelaku ini sempat melihat ke arah CCTV. Dikira ya si pelaku ini tidak akan kembali karena wajahnya sudah terpampang jelas di CCTV dan si pelaku pun seharusnya menyadari ada CCTV.
Pemilik CCTV nampaknya tidak melakukan share video CCTV ke sosial media wilayah, jadi memang dikeep. Mungkin jika video ini dishare pasti si maling gak akan tahu dan gak akan kembali ke lokasi pencurian lagi.
Tapi ternyata si pelaku tidak menyadari alat itu adalah video camera yang telah merekam aksinya sebelumnya.
Eh di akhir pekan lalu ini dia sepertinya dengan polosnya datang lagi berjualan di komplek perumahan ini. Security komplek yang sudah mengingat wajah pelaku langsung meringkusnya.
Apes sekali bukan? Iya lah, dia sudah diberikan kesempatan bebas/lolos, tapi kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan benar untuk tidak melakukan kesalahan eh malah dia lakukan. Sekali dia lakukan lolos, oke. Dua kali dia lakukan lolos lagi, eh malah mau mencoba lagi (mungkin niatnya cek arus), eh malah ternyata kebawa arus.
Akhirnya dia dibawa ke TKP untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia diminta mengganti kerugian atau dibawa ke kantor polisi. Nampaknya opsi mengganti kerugian dipilih. Dengan jaminan gerobaknya dan hapenya ditinggal.
Saya amati gerobak itu sudah terparkir berikut isi bakpao dagangannya sejak Sabtu, lalu Minggu gerobak itu masih ada di sana. Dipastikan dagangannya juga basi, sebenarnya eman sekali, tapi mau bagaimana. Pelaku harus diganjar hukuman.
Entahlah apakah itu si pelaku akan kembali lagi membayar kerugian untuk menebus gerobaknya, atau malah gerobaknya itu dibiarkan begitu saja dan dia kabur karena tak sanggup mengganti kerugian.
Saya yakin si pelaku itu dalam hatinya menyesal sekali. Mungkin hari itu dia itu bertanya-tanya, apakah harus ke tempat dimana dia dulu berhasil mengambil barang atau tidak ya. Entah kenapa dia memberanikan diri untuk datang ke lokasi dimana dia pernah mengambil sesuatu. Jika waktu bisa dimundurkan kembali, dia gak akan pernah datang lagi ke sana. Eh karena bujukan dari mana, tanpa rasa bersalah dia berani² nya kembali lagi ke sana, akhirnya tercyduk dan dia harus mengganti rugi atas perbuatannya itu. Sudah dia harus menahan malu atas kelakuannya yang terlihat oleh semua orang.
Padahal sebelumnya perasaan malu orang tahu kejahatannya tidak terasa, karena dia pikir gak ada bukti dan saksi kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Tapi ternyata dengan adanya CCTV kelakuannya nampak jelas. Untung lagi si empunya CCTV juga tidak mempublikasikan nya ke media sosial Pandaan. Jika itu dilakukan maka karirnya sebagai penjual bakpao keliling akan hancur, orang gak akan respect lagi pada orang itu, besok² jika berjualan dia akan dicurigai sebagai maling.
Tapi seandainya si maling ini tidak kembali dihari itu, dan lebih baik meninggalkan daerah Pandaan dan jangan pernah kembali lagi, maka dia tidak akan perlu mengganti rugi, lalu gerobaknya, hapenya tidak perlu disita jadi jaminan.
Kembali lagi, setiap perbuatan jahat itu pasti ada ganjarannya dan akhirnya si pelaku mendapatkan ganjarannya dengan harus mengganti kerugian dan harus malu karena semua orang tahu bahwa dia adalah pencuri.
Itulah dia cerita yang bisa saya bagikan, ya buat pelajaran juga sih, kalau punya toko kelontong ya dijagalah dengan baik, jangan memberikan kesempatan maling untuk bereaksi.-cpr
#onedayonepost
#umum
#serbaserbi




Leave a Comment