Grab Online vs Offline, Dilema Kebutuhan

Hampir jalan total dua bulan ini saya menjadi mitra Grab. Sejauh ini aturan kode etik Grab mengatakan tidak ada yang boleh menerima orderan offline di luar aplikasi.

Ilustrasi, gambar diambil dari Google

Dalam arti begini, misalnya ada transaksi order masuk mengantar dari titik A ke titik B, dengan tarif Rp 30.000,- yang dibayar oleh konsumen, yang diterima bersih driver Rp 22.000,- secara online. Itu normal secara aturan yang dijalankan sesuai kode etik. Namun kenyataan di lapangan ada kecenderungan untuk melakukan 'opsi' lain yang bagi Grab ini melanggar kode etiknya, yaitu mengalihkan transaksi itu menjadi offline. Sehingga uang yang diterima oleh Mitra Grab adalah full Rp 30.000,- tanpa potongan oleh Grab. Bagi Grab dianggap tidak ada transaksi sebesar Rp 30.000,- di sistem mereka, meskipun di realitanya si Mitra Grab tetap mengantar konsumen dari titik A ke titik B. 

Permasalahannya muncul sebagai pelanggaran kode etik karena Mitra Grab ini mengalihkan transaksi yang sudah muncul di aplikasi pindah ke offline. 

Ketika ada transaksi online si konsumen menggunakan aplikasi, transaksi tersebut tahu² dibatalkan oleh konsumen, karena ada deal² antara konsumen dan Mitra. Karena pembatalan ketika dilakukan oleh Mitra maka Mitra lah yang akan kena 'notifikasi', dibandingkan konsumen yang kena 'notifikasi'. Notifikasi di sini yang saya maksudkan adalah teguran berupa penurunan performa, sejenis itu lah. 

Meskipun ketika terjadi pembatalan itu juga mempengaruhi optimal nilai penerimaan pekerjaan para Mitra. Tapi tidak terasa secara langsung dibandingkan pembatalan dilakukan oleh Mitra sendiri dengan kesadaran penuh. 

Trik migrasi order online ke offline ini kerap terjadi pada transaksi jarak jauh. Jarang Mitra memilih yang transaksi dekat, dipindah dari order online ke offline. Ketika order jarak jauh, ruginya cukup terasa dirasakan Mitra.

Saya ambil contoh itu transaksi order online, antar dari Kota Pasuruan ke Kabupaten Blitar, dengan tarif Rp 500.000,- yang dibayarkan oleh konsumen, sedangkan yang diterima oleh Mitra adalah sebesar Rp 300.000,-. Bayangkan ada selisih sebanyak 200K, itu yang masuk ke Grab. Angka yang tidak kecil, jika selisih itu masuk ke Mitra semua maka itu akan sangat membantu, bisa untuk modal BBM dan 300K itu murni buat pendapatan bersih Mitra. Untuk jarak sejauh itu nominal sebesar itu dirasa cukup, jika dibandingkan Mitra hanya terima Rp 300.000,- dipotong bensin 200K, artinya hanya terima 100K untuk jarak sejauh ini sunggu tidak bisa diterima. 

Maka dari itu atas dasar itulah mayoritas Mitra memilih memindahkan transaksi ke jalur offline ketika mendapatkan orderan dengan jarak yang relatif jauh. 

Itu kenapa permasalahan orderan offline akan tetap ada, sehingga secara gak langsung kode etik Grab sering dilanggar, baik secara sadar atau tidak sadar. 

Order offline yang tidak menyalahi kode etik Grab adalah apabila konsumen dan Mitra Grab sudah saling mengenal satu sama lain, saling bertukar nomor telepon dan membuat kesepakatan tersendiri. Tarif deal didasarkan dari tarif online aplikasi. Sehingga itu nominal utuh yang diterima oleh Mitra Grab tanpa potongan. 

Kekurangan jika orderan offline:
🚕 Perjalanan tidak terekam oleh aplikasi, sehingga apabila terjadi masalah (kriminal, kehilangan, insiden pelecehan seksual dll.) akan sulit terlacak. 

🚕 Tidak ada perlindungan dari Grab dan asuransi perjalanan

🚕 Keamanan Mitra Grab dan konsumen saling beresiko

🚕 Qty transaksi order Mitra Grab di aplikasi jadi berkurang, sehingga performa Mitra Grab secara aplikasi dianggap kurang

🚕 Otomatis melanggar kode etik Grab dengan resiko sanksi pemutusan kemitraan

🚕 Konsumen tidak akan mendapatkan bukti transaksi dari perjalanan yang dilakukan

🚕 Potensi tidak dapat insentif atau bonus tertentu

🚕 Potensi ada konflik tarif karena tidak ada standar harga


Pengalaman saya sejauh ini, opsi tawaran orderan offline sering muncul dari konsumen. Tanpa melihat niat buruk konsumen. Sejauh ini konsumen yang saya temui vibesnya (+), jadi saya tidak berpikiran macam².

Tapi meski begitu saya masih memilih mengarahkan menggunakan aplikasi walaupun tawaran itu ada. Karena saya mengejar statistik dan data yang terekam di aplikasi, saya senang ketika membaca data transaksi yang terjadi, melihat waktu, potongan, kemudian bisa memberi rating dengan mengucapkan terimakasih secara rating di aplikasi terhadap penumpang. Jadi memilih terima order secara online itu masih jadi pilihan saya saat ini. Meski saya menyadari potongan dari aplikasi cukup besar, pernah saya hitung sampai 28,29% potongannya, umumnya menyasar orderan besar. 

Hal seperti ini memang gak perlu di share sebenarnya karena prinsipnya TST (tahu sama tahu), tapi saya sengaja tuliskan itu supaya tanda, bahwa saya memilih untuk menjalankan order online daripada offline. Jika dikemudian hari disalahkan karena mungkin sekali kena karena menerima order offline karena kondisi terpaksa, setidaknya jangan digeneralisir, toh selama ini saya berusaha untuk mengusahakan order online daripada offline semaksimal mungkin, walapun pendapatannya dipotong relatif besar oleh aplikator. 

Karena pengalaman selama ini, "nila setitik rusak susu sebelanga", mudah-mudahan sih masih on the track sampai selamanya. -cpr

#onedayonepost
#justsharing
#review
#serbaserbi
#umum
#grab

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.