Jurnal Grab: Cerita Sedih Penumpang
Setelah semalam saya dapat cerita nyaris tertipu oleh orderan fiktif, malam ini saya dapat cerita baru lagi, dimana ini jadi refleksi, renungan dan instropeksi diri dari kisah yang dialami oleh penumpang saya malam ini.
Baca juga: Nyaris Kena Hack dari Customer Grab Penipu
Jadi malam sepulang aktivitas gym, saya dapat order. Saya langsung seperti 'trauma' dengan orderan fiktif semalam. Jadi pas saya jemput calon penumpang, setelah sampai di titik jemput saya coba hubungi calon penumpang tapi tidak ada respon sama sekali, dichat centang satu, ditelepon juga tidak ada balasan.
Sama seperti sebelumnya saya tipe driver yang sabar nunggu, jadi ya sambil menghubungi saya sabar menunggu karena kebetulan tidak diburu-buru sesuatu, mungkin lain jika saya diburu-buru sesuatu.
Karena sudah lumayan lama baru saya terpikir, wah ini order fiktif lagi. Saya mulai mempersiapkan antisipasi jika ini memang order fiktif.
Eh tidak lama pas saya masih mencoba menghubungi calon penumpang, dari bibir gang muncul orang yang melihat ke arah kendaraan saya untuk memastikan. Saya langsung menghampiri dan memastikan apakah ybs. nama calon penumpang saya. Ternyata benar, dia calon penumpang saya.
Dia cerita kalau smartphonenya lowbet dan tidak ada koneksi data, sehingga dia gak bisa respon lebih lanjut. Sebelumnya dia sudah order dan dicancel oleh driver, setelah cancel barulah dapat saya dan waktu itu dia sudah tidak bisa akses internet sehingga dia tidak tahu driver mana dan mobil yang akan menjemputnya.
Jadi dia itu mendadak order karena dia sedang ada masalah keluarga. Dia diusir oleh ibunya, dia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dia sepulang kerja, tidur sejenak, ibunya lalu ngamuk² dan mengusir anaknya itu.
Jadi si penumpang saya itu merasa selama ini seperti dianaktirikan oleh ibunya itu dan ibunya memang punya karakter yang tidak cocok sebagai seorang ibu yang adil. Hal ini juga diamini oleh tetangga rumahnya.
Malam itu penumpang saya itu diusir dan hendak sementara tinggal di kos temannya. Jadi malam itu semua barang² pribadi si penumpang dilempar oleh ibunya dan terpaksa harus boyongan.
Nah driver yang pertama itu menolak order karena tidak mau angkut barang² pindahan itu. Kebetulan saya gak pernah pilih² order, saya mencoba melayani dengan hati, apalagi ada yang punya masalah demikian. Jadi saya bantu juga angkut juga dan fixed orderan ini bukan fiktif.
Barangnya memang cukup banyak tapi itu barang ringan, masih bisa diangkut semua dengan mobil saya Datsun Go koq, jadi bukan masalah. Bahkan saya pernah mengangkut yang lebih banyak dan berat dari ini. Kita kan bisnis pelayanan jadi harus melayani dengan hati dong.
Sepanjang perjalanan penumpang saya bercerita demikian, bahwa ya dia kerap dikasari, diperlakukan tidak adil, hingga jadi 'sapi perahan' secara ekonomi untuk membiayai kuliah kakaknya padahal dia sendiri bekerja banting tulang juga ingin kuliah, tapi ibunya memaksa dia untuk membiayai kuliah kakaknya. Kakaknya itu jadi anak emas ibunya dibandingkan dia. Situasi ini terjadi sudah lama dan baru meledak dan akhirnya dia diusir.
Dia bercerita bahwa ibunya dulu juga diperlakukan sama oleh ibunya (nenek si penumpang), dan ternyata dia melakukan hal yang sama ke anaknya lagi, bukan memutus mata rantai buruk malah dilanjutkan ulang ke anaknya.
Saya langsung mikir kasihan sekali jadi anak yang seperti ini ketika punya orang tua yang 'bermasalah' secara psikologis. Saya cuma bisa berkata yang sabar, ikhlasin dan berdoa saja, rejekimu banyak, jika bener nanti ke depan urusannya akan dimudahkan. Suatu saat ibunya akan sadar dan minta maaf atas semua perbuatannya pada anak yang tidak seharusnya dilakukan seorang ibu.
Ya begitulah jurnal Grab kali ini, dari cerita penumpang saya itu jadi mikir, kelak kalau jadi orang tua harus lebih sehat psikisnya, jangan sampai gak beres kaya gitu. Untung saya bukan tipe orang ngamukan, masih bisa tenang gak meledak-ledak hanya masalah sepele.
Tapi saya senang sih menjadi Mitra Grab seperti ini, bisa jumpa banyak orang dengan segala macam problema, saya bisa instropeksi dan berefleksi. Saya tidak membandingkan dengan yang terlalu ideal, harusnya begini begitu, tapi jika saya diposisi itu bagaimana ya. Soalnya terkadang ada yang dapat cerita begitu, malah dia bereaksi hal² yang ideal dan membenturkan hal² yang harusnya terjadi. Siapapun yang dengar bukannya malah termotivasi malah membentengi diri, karena kesan nya gak realistis. Karena semua disesuaikan dengan standar ideal dirinya.
Ini kali pertama dapat penumpang dengan masalah keluarga. Sekedar sharing saja sih. Siapa tahu juga bisa jadi bahan instropeksi.
Ditunggu saja jurnal Grab apa lagi yang bisa saya bagikan di sini. Semua catatan di sini serasa tidak penting saat ini, tetapi jika waktu sudah berlalu semua catatan ini baru akan ada harganya. Bagi kebanyakan orang akan berpikir begitu. Jika tidak diomong sekarang nanti saya pasti dikatakan tidak punya bukti. Tapi jika saya lakukan sekarang dianggap seperti melakukan hal sia² karena hanya sibuk scroll hape, padahal ya saya nulis catatan yang dianggap tidak berguna ini. -cpr
#onedayonepost
#grab
#review
#serbaserbi
#umum




Leave a Comment