Sabtu, 10 Maret 2018

Review Headphone Bits Sport Beat BT-008

Belakangan ini saya lebih sering melakukan perjalanan komuter dari satu tempat ke tempat lain dengan angkutan umum. Terkadang, sering terasa BT, kalau tidak melamun, berhayal ya tidur. Namun tau sendiri, transportasi di Jakarta itu jarang sekali sepi, jadi sulit dapat tempat duduk, yang akhirnya mengharuskan untuk berdiri, jadi tidak bisa tidur deh.

Liat komuter-komuter lain kebanyakan asyik sibuk dengan gadget masing-masing, sambil mendengarkan musik atau bertelepon ria dengan headset wireless dan by wire. Nah, saya jadi kepikiran, kenapa saya tidak seperti mereka, menikmati perjalanan juga.

Akhirnya, iseng deh searcing headphone yang cocok sesuai selera, karena kalau headset sudah antimainstream, pakai headphone sepertinya nyaman, setidaknya bisa mereduce suara bising di luar.

Pengennya headphone wireless, tapi masih bingung pilih yang mana. Akhirnya untuk permulaan, saya coba headphone kelas bawah saja dulu. Patokannya saya adalah harga, karena ada harga ada rupa. Karena banyak sekali headphone dan headset yang KW alias tiruan dari model aslinya, jadi sempat bikin bingung.

Tapi lama-lama, keseringan search harga akhirnya saya memahami kalau ada headphone atau headset bermerk dijual dengan harga murah banget, kemungkinan itu KW, karena yang ORI harganya jauh lebih mahal. Tapi kita juga harus hati-hati, karena membedakan asli dan palsu itu tidak bisa hanya dari gambar, perlu dicoba dan lihat langsung.

Patokannya, jika beli dengan harga mahal, tapi kualitas standar, wajib hati-hati. Karena saya masih yakin prinsip ada harga ada rupa. Ingat itu ya, wajib jadi pembeli cerdas.

- * -

Akhirnya pilihan saya jatuhkan ke Headphone Bits Sport Beat BT-008, dengan harga yang relatif murah hanya Rp 80.750,- after diskon. Saya belum tahu merk ini asli atau tiruan? Hmm, sebenarnya banyak sih headphone dengan harga murah lainnya. Headphone ini dibuat di China. Alasan saya pilih unit ini karena saya pikir ukurannya besar dan warnanya kebetulan merah, cocok dengan selera.




Ternyata setelah saya pakai, ukurannya tidak besar dan tidak juga kecil. Kalau untuk orang bertelinga kecil mungkin pas ya. Saya sendiri, telinganya agak besar, jadi kaya kurang pas. Ukurannya itu mirip seperti headphone JBL T450-BT.

Ilustrasi JBL T450-BT

Headphone ini relatif ringan, untuk materialnya berbahan plastik. Bagian speaker kiri-kanan bisa disesuaikan mengikuti besar kecilnya kepala si pemakai. Kualitas busanya oke, lem-lemannya sepertinya kuat dan pressisi.

Headrest bagian atas sejauh ini nyaman sih. Tulangannya berbahan plastik dilapis busa, bagian atas berwarna hitam dan bawahnya berwarna merah. Untuk busa dibagian telinga cukup empuk, namun tidak nyaman jika dipakai lama-lama, telinga jadi pegal.


Headphone ini menggunakan kabel ya. Jangan terkecoh dengan tulisan di kemasan yang tertulis "wireless headset", kemudian di bagian tengah tertulis "bluetooth". Headphone ini sama sekali tidak ada fitur wireless. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jangan berharap lebih dengan harga yang ditawarkan.

Headphone ini punya kabel aux jack 3,5 mm yang dilapis kulit kabel berbahan kain "tali sepatu". Cukup nyaman, sehingga meminimalisir bundet dibandingkan jika tidak tidak dilapis dengan bahan ini. Panjangnya juga cukup pas, kurang lebih ya 90 centimeter. Di bagian tengah agak ke atas, ada speaker phone dan tombol on/off panggilan. Tombol ini juga berfungsi sebagai play/pause.

Untuk kualitas suaranya menurut saya standar. Untuk bass -nya ya standar aja sih, tetap berasa ada bass-bass -nya gitu. Treble -nya ya menyesuaikan, tidak begitu nyaring sih. Kalau untuk dipakai di suasana ramai, hiruk-pikuk berisik masih oke sih, meski masih tetap terdengar suara berisik di luar.


Kesimpulannya, untuk kelebihan ya soal harganya yang murah, ringan dan kabel aux -nya pas dan tidak mudah bundet/ ruwet. Kekurangannya, tidak terasa nyaman jika dipakai berlama-lama, lebih cocok untuk dipakai orang dengan telinga standar (kecil - sedang), material terlihat biasa, kesan plastiknya kentara banget. Sekali lagi, ada harga ada rupa. Jadi, headphone ini cocok buat yang pengen punya headphone dengan harga murah meriah.

Sekian dulu testimoni saya seputar headphone ini. Semoga headphone ini bisa menemani saya berkomuter di Jakarta. Lain kali saya bandingkan dengan headphone lain dengan kelas lebih tinggi lagi.bye-bye, cao.cpr.

Kamis, 01 Maret 2018

Review Meja Laptop Transformers Port-able

Akhirnya, setelah unboxing, sekarang waktunya mencoba apa yang sudah diunboxing tadi. Oh iya, seperti dijudul yang saya tulis, yang mau saya berikan testimoni/ review adalah meja laptop transformers portable. Sepertinya saya lebih cocok menyebutnya begitu.


Untuk nama produk yang dijajakan di Shopee kalau tidak salah adalah Meja Laptop Portable 2 USB cooler dan mouse pad / Multi Function Laptop E-table Portable


Seperti yang sudah diulas sedikit pada catatan sebelumnya, dalam paket penjualannya meja laptop transformer ini terdiri dari:
- 1 unit meja portable material aluminium, berengsel plastik warna pink
- 1 mouse pad
- kuncian mouse pad
- kabel USB power fan cooler
- 2 buah aksesoris holder



Secara keseluruhan, meja ini cukup ringan, jadi cocok jika dikatakan portable table. Material aluminium-nya cocok, nampak kokoh, meski jika diamati seksama seperti ringkih juga. Terutama kalau sudah diubah ke bentuk meja yang diinginkan.

Meja ini bisa digunakan untuk beberapa kebutuhan penggunaan, seperti yang sudah saya singgung dicatatan sebelumnya, yaitu sebagai meja untuk kondisi lesehan, duduk di sofa atau tempat tidur, atau bahkan bekerja sambil tiduran.


Untuk mengubah posisi antar engsel, kita hanya perlu menekan tombol di bagian engsel yang berfungsi sebagai titik putar/ gerak dan pengunci. Disediakan juga ukuran derajat untuk patokan posisi engsel yang pas. Material meja memang dari aluminium, kalau di bagian engsel materialnya plastik berwarna hitam.


Kelebihan produk ini, ringan, praktis jika mau dibawa kemana-mana, misalnya dibawa dalam perjalanan dengan kendaraan pribadi (mobil), bisa disesuaikan dengan ragam kebutuhan (terbatas), tersedia fan cooler yang membantu mendinginkan laptop dan paha (angin semilir kalau kita pake celana pendek ya sedikit berasa anginnya).

Kekurangan produk ini, karena materialnya aluminium dan dibuat ringan, membuat meja ini jadi kurang kokoh, terutama kalau sudah disiapkan posisi siap pakai, ketika laptop diposisikan di tempatnya, saat mengetik jadi terganggu getaran kaya papan jungkat-jungkit kaya ngeper gitu, jadi tidak antep.

Getaran ala jungkat-jungkit cukup menganggu, ya mungkin saya harus terbiasa dengan hal ini. Kemudian, karena tidak begitu kokoh, harus hati-hati ketika menggunakan meja ini, karena jika plat aluminium, kaki dan engselnya bengkok atau bergeser maka akan membuat meja tidak bisa diposisikan secara presisi.

Kesimpulan, plus minus ada karena sebab akibat. Karena ingin membuat meja portable yang ringan membuat meja ini jadi ringkih dan mudah melengkung. Tapi jika mau dibuat kokoh mau tidak mau harus menggunakan material yang lebih kokoh, besi misalnya, jadi lebih antep, namun efeknya meja jadi berat dan tidak cocok lagi dikatakan meja portable.

Secara umum, saya kasih komen positif lah, cukup membantu aktivitas bekerja saya di kamar. Saya tinggal menyesuaikan dengan kemampuan produk ini, jadi tahu dimana batas maksimumnya. Mau bagaimana seting mejanya tergantung kreatifitas kita, nyamannya seperti apa.


Oke, sekian dulu review atau testimoni saya soal meja laptop transformer ini. Bagi yang berminat, bisa cari di toko online di sini, buanyak koq yang jual. Sampai jumpa dicatatan lainnya.cpr.

Kamis, 01 Februari 2018

Review Ozone 725 Tas Laptop Komuter

Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya paket kiriman tiba. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, kali ini saya pengen review tas laptop kompak satu ini.


Cukup sulit juga memilih tas ransel untuk membawa laptop 14 inchi kemana-mana. Beberapa catatan saya adalah harus simple, kompak, elegan, kuat dan bisa dua cara pakai, sebagai ransel dan slempang. Selera saya cukup sulit, ingin barang bagus tapi dengan harga murah.



Akhirnya dari beberapa pilihan, pilihan jatuh pada satu model, Ozone. Setidaknya begitu sih yang tertulis dilaman penjual. Modelnya seperti tas laptop pada umumnya, bisa menampung laptop 14 inchi. Bentuknya kotak, tipis, maklum hanya tersedia dua kompartemen, untuk menempatkan laptop dan satu lagi kompartemen untuk alat tulis, gadget, id card atau lainnya yang tidak berukuran tebal.


Entah tas yang saya pilih ini adalah produk asli atau KW, yang jelas saya masih percaya ada harga ada rupa. Namun, toko online terkadang merubah prinsip tersebut, beberapa penawaran dengan harga bervariatif untuk barang yang sama sempat membuat saya bingung. Ada satu hal dal prinsip belanja online, siapkan mental, dan jangan berharap lebih. Kecewa itu sudah pasti, jika kepuasan itu rejekimu.

Kembali ke catatan. Tas ini saya peroleh dengan harga 119K, di Shopee. Nanti saya sajikan link nya di bawah catatan ini. Sebenarnya ada beberapa penawaran di sana dan juga di marketplace lain seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Berikut ini spesifikasi Ozone 725 yang saya peroleh dari diskripsi produk oleh penjual:
- bahan 300d + 1682d
- dimensi 40 x 30 x 8 cm
- tersedia dua kompartemen
- bisa ransel dan slempang
- warna hitam


Kompartemen utama untuk tas ini sangat pas sekali untuk laptop ukuran 14 inchi yang jadi inventaris saya. Ada empat jepitan dari karet di empat sudut. Kalau untuk memuat laptop dengan tambahan softcase sepertinya akan sangat ngepres sekali, tapi masih oke lah. Untuk menempatkan laptop Zyrex 232 Plus dengan ketebalan 15 mm masih menyisakan space jika kita mau simpan buku, ya seukuran buku novel atau buku tulis masih oke. Itu berarti masih ada sisa 65 mm untuk penyimpanan. Kalau saya coba membawa Asus X441S dengan ketebalan 27,6 mm masih menyisakan 52,4 mm. Tetap masih menyisakan space untuk menyimpan dokumen kan pastinya.



Kemudian, untuk kenyamanan di punggung atau ketika dibawa slempang itu memang tergantung dari banyak atau beban total isi tas. Berdasarkan pengalaman membawa Zyrex yang bobotnya hanya 1,38 kg cukup nyaman, ringan dan bisa dibawa lari. Kemudian saya ganti dengan Asus yang bobotnya 1,9 kg pun masih oke, jadi kesimpulannya untuk membawa beban laptop 14 inchi pada umumnya tas ini cukup nyaman. Untuk  saya, penggunaan ini hanya untuk membawa laptop, charger, mouse, alat tulis, smartphone, charger, id card dan buku catatan. Sekiranya cukup 2 kg untuk mobilitas komuter di Jakarta yang cukup padat jika harus menggunakan angkutan umum.


Hanya saja jika memakai tas, hanya dicangklongkan satu sisi, misalkan lagi memindahkan tas ke bagian depan, saat lagi naik KRL, punggu terasa cepat pegal. Tapi kalau dicangklongkan dua sisi, tidak begitu capek.

Oh iya, dalam paket penjualan tidak disertakan cover bag, jadi mau tidak mau harus cari sendiri. Ada bagusnya bisa memastikan sendiri cover bag yang cocok, soalnya kebanyakan cover bag maksimal jika lapisan lilinnya masih baik, jika sudah luntur karena pemakaian tetap juga rembes. Jadi pastikan cover bag terbuat dari bahan yang benar-benar anti air.

Kesimpulannya, Ozone 725 punya kelebihan dimensinya yang slim untuk tas laptop sekelasnya, cocok untuk pengguna yang simpel seperti saya. Tersedia dua mode ransel dan slempang, mudah disesuaikan tergantung selera. Cocok untuk user dengan badan mungil, atau minimal seperti saya yang "slim". Kekurangan hanya mampu menyimpan sedikit barang bawaan karena dimensinya yang terbatas, tidak cocok digunakan oleh user dengan postur big size. Hanya cocok untuk membawa laptop 14 inchi masa kini, laptop masa lalu yang tebal-tebal sepertinya kurang pas. Bahan busa bagian luar tempat disematkan logo Ozone mudah kotor, karakter busa senang menyimpan debu.

Sepertinya hanya itu yang bisa saya bagikan setelah beberapa saat menggunakan Ozone 725, tas laptop untuk blogger komuter seperti saya. Yups, alasan saya pilih tas ini agar laptop bisa saya bawa kemana saja tanpa saya kesulitan bergerak di tengah hiruk pikuk manusia dalam angkutan umum.

Sampai jumpa dicatatan lainnya, review tentang barang lain yang saya temukan atau gunakan, saya pakai atau saya pinjam atau bahkan saya makan.cpr